Tampilkan postingan dengan label Home Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Home Education. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2013

Digitalisasi Dalam Dunia Pendidikan

  
sumber
  Rasanya belum ada 10 tahun saya mengenal kuliah jarak jauh yang diadakan saat dosen saya sedang tidak dapat masuk kelas dikarenakan sedang berada di kota maupun negara lain. Sehingga kelas digelar dengan bantuan internet agar tetap bisa berkomunikasi meski jarak jauh. Saat itu rasanya amazing sekali, karena sejak TK sampai SMA yang saya ketahui bahwa kelas harus diselenggarakan tatap muka secara nyata antara siswa dan guru.
     Ternyata kini digitalisasi di segala bidang sedang berlangsung dengan sangat cepat, bahkan termasuk dalam dunia pendidikan. Baru-baru ini saya juga telah mengikuti webinar dari Rumah Inspirasi untuk pengenalan praktek Homeschooling yang sedang saya terapkan dalam mendidik anak saya, Fachry (3 tahun). Webinar ini diselenggarakan dengan akses internet pula, masuk dalam sebuah situs yang mengakomodir penyelenggaraan kelas-kelas jarak jauh secara interaktif (dapat mendengarkan suara mentor, menulis di chat dan melihat video/ tutorialnya. Pesertanyapun tidak terbatas di Indonesia saja namun para orangtua Homeschooler dari berbagai negara. Maka saya pun kembali amazing dengan kecanggihan internet masa kini.
      Media digital memiliki kelenturan nyaris tak terbatas. Penggunaannya bisa dirancang sedemikian rupa sesuai dengan tujuan serta kreativitas pemakainya. Untuk dunia pendidikan, media seperti ini adalah aset yang sangat berharga. Terutama karena pendidikan ditujukan untuk menghasilkan SDM berkualitas. Menurut Razi Thalib, CEO dari Bridges & Balloons Digital Agency, yang merupakan salah atu klien Personal Branding Agency, Indscript Creative ini, pendidikan adalah salah satu kunci untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang memiliki standar tinggi dalam suatu pencapaian. “Masyarakat seperti itu yang akan membentuk kultur baru yang lebih sophisticated. Sebuah kultur yang menghendaki kualitas terbaik dalam segala hal; baik itu dalam hal bisnis, pemerintahan, maupun penyediaan layanan masyarakat,” ujarnya.
      Saya pun menggunakan media digital sebagai alat bantu dalam mendidik anak saya. Melalui beberapa situs edukasi luar negeri seperti IXL dan Reading Eggs, Fachry bermain sambil belajar. Selain itu sumber-sumber inspirasi untuk aktifitas kegiatan homeschooling kami juga dapatkan dari internet. Begitu pula berkat teknologi digital yang membentuk banyak jejaring sosial kami sesama praktisi homeschooler dari seluruh Indonesia dapat saling berinteraksi, berbagi pengalaman satu sama lain, saling menguatkan dan mensupport, bahkan dapat kopi darat dalam suatu rangkaian acara yang sering di gelar.
     

Jumat, 12 April 2013

HOMESCHOOLING ? SIAPA TAKUT !!

    Semakin hari semakin mantap kami untuk tidak menyekolahkan anak kami, Fachry (3yo), paling tidak untuk usia preschool ini. Kami belum tahu next bagaimana, tapi yang jelas kami sepakat untuk tidak memasukkan Fachry ke PAUD, Kelompok Belajar, Preschool atau apapun lah namanya, yang mulai menjamur di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Sejak mengikuti webinar Homeschooling yang diadakan Rumah Inspirasi  http://rumahinspirasi.com/webinar-homeschooling-2013-1/, saya semakin yakin bahwa kami mampu menjalaninya bahkan tidak terpikir apapun rintangan yang bakal terjadi.
     Mungkin orang awam akan berpikir kami keluarga aneh, but it’s my life, it’s my family, it’s my child and it’s my call. Meski suami sebenarnya tidak pernah secara gamblang mengungkapkan persetujuannya namun suami saya, Lukytho adi, tidak pernah melarang saya ikut berkumpul bersama praktisi Homeschooling, tidak pernah menunjukkan keberatannya untuk jadi praktisi HS, maka cukup bagi saya untuk memulai mempersiapkan diri menjalani hari-hari sebagai praktisi HS.
     Metode HS ini begitu menarik untuk saya karena saya ingin mengeksplorasi sendiri apa-apa yang menjadi minat anak kami tanpa harus membebaninya pada hal-hal lain yang membuatnya kehilangan fokus pada minat dan bakatnya. Saat di usia preschoolnya ini yang kami harapkan bukan pada kemampuan akademisnya namun pada kecintaannya pada proses mencari ilmu pengetahuan itu sendiri.
      Banyak pertanyaan yang diajukan teman-teman saya berkaitan dengan keputusan HS kami diantaranya adalah tentang sosialisasi anak. Beruntungnya kami, Fachry memiliki sifat dari kedua orangtuanya yang tergolong mudah beradaptasi dan mencari teman. Seperti hari ini, saat bermain di area Tamiya dia berusaha mendekati anak-anak baik sebaya, lebih kecil maupun yang lebih tua untuk ‘mencari teman’. Kami mengamatinya dari jauh dan tertawa kecil melihat tingkah lucunya saat berusaha berkenalan. Meskipun kami di hari-hari biasa jarang mengajaknya berkegiatan bersama teman-teman di lingkungan rumah, namun kami tidak khawatir dia kesulitan bersosialisasi. Kami hanya perlu menanamkan bagaimana sebaiknya ia memperlakukan teman sebaya, menyayangi dan mengalah dengan teman yang lebih kecil dan bersikap sopan dengan orang yang lebih tua.
     Ada juga pertanyaan tentang kompetisi anak-anak HS. Di sekolah anak terbiasa berkompetisi dengan teman-teman sekelasnya seperti dalam ujian dan perlombaan. Memang untuk anak-anak HS kompetisi lebih mengarah pada kompetisi dengan dirinya sendiri, mengalahkan egonya, mengalahkan sifat-sifat buruknya. Untuk dunia luar lebih diarahkan pada kolaborasi dan bukan kompetisi. Kolaborasi menghasilkan hal-hal yang bermanfaat jauh lebih baik bukan daripada berkompetisi?.
     Pertanyaan yang agak susah saya jawab adalah tentang bagaimana HS untuk orangtua yang keduanya bekerja di luar rumah. Beruntungnya saya dan suami adalah pekerja mandiri. Sehingga kami bisa membagi waktu/ mengatur waktu untuk proses HS anak kami. Intinya hanya pada seberapa bisakah anda memenej waktu. Apabila anda sanggup mengelola berarti anda bisa menjalankan praktek HS ini. Jadi semua tergantung pada seberapa besar usaha anda untuk mengaturnya. Misal saat orangtua keduanya bekerja, orangtua bisa berkolaborasi dengan kakek nenek, tante, atau pengasuh lalu bisa dipantau dari jauh. Namun bila tidak bisa ya artinya praktek HS akan sulit untuk dilakukan karena HS ini berbasis peran orangtua.
     Beberapa hal yang saya ingat sekali dalam webinar HS berkaitan dengan kesiapan saya menjadi praktisi HS untuk Fachry di usia Preschool  diantaranya jargon “better late than early”, meski saat ini kita sering dibombardir dengan jargon “Jangan melewatkan Golden Age” namun kita perlu perhatikan bahwa dimasa emasnya ini bukan berarti sang anak harus kita jejali dengan segala macam kemampuan-kemampuan akademis. Justru di masa emasnya ini kami sebagai orangtua tidak akan melewatkannya dengan menyerahkan dia pada pihak lain, tapi justru kami harus menginvestasikan waktu kami untuk sebuah kebersamaan yang menyenangkan, menciptakan kenangan-kenangan manis yang bisa diingatnya hingga dewasa, banyak-banyak mengobrol, menciptakan bounding antara orangtua dan anak.
     Bismillah..kami siap menjadi Kepala Sekolahmu Nak ! Kami bukan orangtua super, tapi kami ingin belajar dan bertumbuh bersamamu. Kelak kita kursus bahasa Inggris bersama yah. Hehehe

Mari menjadi Pembelajar Mandiri


 Mandiri kini jadi kebiasaanku
Mandiri kini melekat didiriku
Kubahagia menjadi anak mandiri

Aku belajar menjadi pribadi mandiri
Tangguh kuat tahan menghadapi tantangan
Aku ingin menjadi pembelajar mandiri
Unggul mewangi meraih masa depan

       Sepenggal bait karya Bu Mira Julia ini sangat menginspirasi kami untuk terus menjadikan Fachry sosok mandiri sejak dini, juga sebagai semangat saya pribadi untuk terus berupaya menjadi pembelajar sejati. Mengingat benar apa yang disampaikan seorang futurolog, Alvin Toffler, yang dikutip pada ebook webinar HS Rumah Inspirasi, http://rumahinspirasi.com/webinar-homeschooling-2013-1/  , bahwa kebutahurufan di abad 21 ini bukan lagi ketidakmampuan dalam Calistung, melainkan ketidakmampuan seseorang dalam belajar (learn), membongkar pengetahuan (unlearn) dan belajar ulang (relearn).            
      Saat ini kita telah mengalami masa peralihan dari abad industri ke abad informasi. Sudah bisa kita rasakan di Indonesia (di luar negri tentu sudah lebih dulu mengalaminya) dimana akibat revolusi informasi semua lini kehidupan pun berubah dan berkembang sangat cepat. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa hampir 3 tahun yang lalu saya banting setir dari seorang pekerja kantoran menjadi seorang pemilik online shop. Bahkan kini seminar pun cukup diikuti dari rumah melalui webinar, begitu juga kelas-kelas khusus seperti kelas menulis yang saya ikuti beberapa hari yang lalu. Bayangkan pelatihan menulis yang zaman dulu harus berada dalam satu kelas khusus diisi jumlah trainee yang terbatas, kini bisa diikuti pula hanya daru rumah. Siap diterima agensi dan tinggal menunggu akan diterima oleh penerbit atau tidak. Benar-benar belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Hehe..         
    Tak pelak lagi hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk para pendidik seperti kami (homeschooler) maupun guru-guru di sekolah formal untuk mampu menyiapkan peserta didiknya menghadapi tantangan di masa mendatang yang kita sendiri belum pernah mengalaminya. Namun dengan merasakan sedikit pengetahuan akan gambaran masa depan paling tidak kita diharapkan mampu mengarahkan anak untuk bisa survive di masa mendatang. Salah satu caranya adalah dengan menyiapkan anak untuk menjadi pembelajar mandiri. Sesosok pribadi yang memiliki dorongan internal untuk belajar, tahu apa yang menjadi orientasinya dalam belajar, terampil mencari bahan ajar dan pandai mengelola dirinya sendiri dalam arti dia tahu kelebihan dan kelemahannya sendiri sehingga mampu mnyusun strategi belajar yang efektif untuk dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas segala konsekuensinya.        
    Untuk mengarahkan anak supaya kelak menjadi pembelajar mandiri saya sih sederhana saja, karena Fachry masih usia preschool saya kenalkan saja dulu dengan lagu Bu Mira Julia diatas. Mulai dari mengajarinya menjadi sosok mandiri dulu terhadap kebutuhan pribadinya karena menjadi pembelajar mandiri itu sendiri merupakan suatu proses jangka panjang yang lama-lama menjadi kebiasaan. Tugas kami lah berupaya instrospeksi diri menjadi teladan yang baik bagi anak kami. Semangat Homeschooling !   

Preschool nya di rumah saja, Fachry

   Selama ini saya pikir semua metoda Homeschooling (HS) itu sama, hanya memilih akan menggunakan kurikulum Nasional atau kurikulum Cambridge. Itu untuk anak usia sekolah. Ternyata setelah mendapatkan pencerahan dari webinar session #2 semalam di http://rumahinspirasi.com/webinar-homeschooling-2013-1/ saya baru ngeh bahwa ternyata banyak model dan metoda yang bisa dipilih para praktisi HS dan tidak ada satupun keluarga HS yang persis sama meski memilih metoda yang sama.

    Sekarang bisa saya identifikasi  kalau ternyata penerapan model HS kami lebih mengarah ke Unschooling. Dengan usia Fachry yang belum genap tiga tahun tersebut, saya memang belum membelikannya peralatan belajar layaknya teman-temannya yang sudah masuk PAUD seperti tas, buku, meja belajar, perlengkapan menulis dan sebagainya sehingga tidak bisa juga disebut model school at home. Dulu kami menawarkan sekiranya apa yang sudah bisa dia pelajari, misal poster huruf abjad, angka, dvd edukasi huruf & angka, tapi semua tidak terlalu menarik minatnya. Hanya di awal saja dan akhirnya kami pun membiarkannya, hingga suatu hari dia sendiri yang meminta diajarkan mengenal angka 1 hingga 10. Lebih cepat hafalnya saat dia sendiri yang meminta. Begitu juga dengan huruf abjad. Sering saya nyanyikan susunan abjad tapi belum begitu tertarik, hingga kemarin malam sebelum tidur dia menemukan buku saya dan di covernya banyak tulisan abjad dengan warna -warni nya sehingga dia menghafalkan bagaimana bentuk huruf A dan mencari mana bentuk huruf yang sama dengan yang saya contohkan tersebut. Begitu pula saat dia ingin belajar tentang nama-nama anggota tubuh, setelah saya perdengarkan lagu Mana Tanganku karya bu Mira Julia, semakin tertarik untuk menyanyikannya sekaligus menghafalkannya.

    Model dan metoda Unschooling ini memang tidak terstruktur serta sesuai keinginan anak aja. Intinya sih orang tua hanya sebagai fasilitator. Sama seperti saat Fachry sedang tertarik untuk mengenal transportasi maka sebelumnya saya print kan gambar dari google atau sebaliknya saat dia sudah tahu jenis transportasinya saya carikan lagi gambar di google untuk bahan bahasan kami. Seperti kereta api, karena kami ingin mengenalkan kereta api kami belikan mainan berbentuk kereta api dengan model jadul (kereta api batu bara lengkap dengan relnya), merencanakan untuk berpergian dengan moda tersebut, print gambar kereta api yang akan kami naiki, dan jadilah kami membahas seputar kereta api saat menaikinya dan sesekali melihat gambarnya sambil mengingat kalau dulu kami pernah menaikinya. Begitu juga dengan taksi, bus, becak, kapal dan mobil Om (mobil pribadi) hehehe. Sedangkan untuk pesawat baru sekedar melihat pesawat yang sedang terbang, mengenalkan ambulance cukup dengan melihat di jalan saja, mobil polisi, truk dan melihat gambarnya di google.

     Sudah terpikir untuk melakukan model Charlotte Mason setelah ini, dimulai mencatat daftar living book yang akan kami bacakan untuk Fachry baik versi luar maupun versi islami. Mulai melatih dia bernarasi atau lebih tepatnya memancing dia ngobrol tentang hari-harinya. Meski tiap hari kami selalu berdua tapi dia perlu bercerita pada Papa nya juga. Kalau untuk menarasikan buku yang telah dibacakan sih belum. Mengajari kebiasaan-kebiasaan baik, masih belum 100% karena kami masih harus mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk kami dulu sebagai orang tua  yang paling sering dicontoh.

    Setelah webinar ini dalam catatannya P. Aar menulis bahwa jangan melabeli keluarga HS Anda dengan salah satu metoda agar tidak terkungkung dan takut untuk berubah. Semua harus disesuaikan pada tumbuh kembang anak,anak harus menikmati proses belajarnya, minat komitmen dan stamina anak terus tumbuh berkembang. Kita semua adalah subjek sehingga punya hak untuk menentukan arah dan tujuan kita. Kita pun wajib menjadi pembelajar mandiri.

     Dalam webinar, kami sesama peserta juga mengobrol , ada yang merasa tertampar, tercubit, kalau saya malah merasa menjadi korban 'makan bangku sekolahan'. Ternyata satu jam waktu belajar di sekolah setara dengan lima belas menit proses belajar efektif di rumah. Maka untuk Fachry yang usia preschool dimana kalau ia di-PAUD-kan akan memakan waktu belajar selama 2 jam maka sebenarnya bisa dilakukan sekitar setengah jam saja di rumah, sisanya kembali untuk bermain. Bisa lebih eksploratif lagi mencari apa yang diminati anak. Sungguh merupakan suntikan semangat baru untuk terus mengupgrade ilmu pengetahuan.

Webinar Pertamaku, Persiapan Homeschooling untuk Anakku

      Homeschooling (HS) pertama kali aku dengar memang melalui infotainment yang sering mengabarkan bahwa artis-artis banyak yang memilih untuk HS daripada masuk sekolah umum dengan mendaftarkan diri di lembaga-lembaga berlabel HS. Namun makna sesungguhnya dari HS justru aku pahami kalau tidak salah dari sebuah file di suatu milis yaitu milis sekolahrumah atau download dari situs Rumah Inspirasi yah, sedikit lupa sumbernya karena sudah terlalu lama. Kemudian sambil terus mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang HS ini akhirnya keluarga kami pun mengenal komunitas HS di area kami yaitu Klub Sinau. Kami pun mulai mengikuti beberapa acara yang sering digelar KS untuk sekedar bertemu para pelaku HS yang lebih senior untuk meyakinkan pilihan kami.
            Sesungguhnya hingga saat ini pun kami belum sungguh-sungguh memutuskan akankah kami positif mengHSkan anak kami, Fachry (34 bulan). Namun beberapa portofolio sudah kami kumpulkan. Melalui lagu-lagu di situs Pelangi Nada, Fachry banyak belajar dan mendapat tempat di hatinya.  Dia belajar mengenal anggota tubuh dari sebuah lagu karya bu Mira Julia (Bu Lala) yang dibuat versi Youtubenya oleh kakak Cha dengan judul Mana Tanganmu. Fachry pun berkesempatan bertemu kak Cha disebuah field trip bersama Klub Sinau, tinggal menunggu kesempatan bertemu Duta dan Bu Lala karena Fachry menjadi rajin mandi kalau dinyanyikan lagu Ayo Kita Mandi. Hehehe...
            Semakin mendekati usia Fachry yang tepat tiga tahun di 1 April nanti aku pun semakin galau. Bingung antara memasukkan dia ke Pos Paud di RW kami atau tidak. Kalau menurut seorang pelaku HS, masuk Paud sah-sah saja karena waktunya terbatas dan orang tua masih tetap bisa memegang kendali untuk mengarahkan pendidikan anak, tapi yang lain berpendapat bahkan setingkat Paud pun pendidikan itu sudah di setting oleh para pengajar, sudah dipilih mana yang cocok untuk usia tersebut, sehingga anak sudah tidak maksimal mengeksplorasi bakat dan minatnya sendiri. Akhirnya saya pun berkonsultasi dengan pelaku HS yang kami kenal, menurut beliau saat anak sudah masuk ke Paud nanti dia akan bisa memilih untuk tetap bersekolah atau sekolah dirumah bersama orang tua. Terus terang kalau untuk memasukkan Fachry ke Paud ternama yang harganya lima juta keatas aku agak keberatan, karena budget tersebut harusnya bisa lebih dimaksimalkan saat pendidikannya ada ditanganku bukan ditangan lembaga lain.
            Mungkin Allah sudah mengatur jalan kami dan memberi petunjuk, tepat di hari pelaksanaan uji coba untuk webinar Rumah Inspirasi aku baru membaca postingan di grup FB Indonesia Homeschooler yang sebenarnya sudah lama di posting. Langsung aku memohon untuk masih bisa diterima mendaftar ikut kelas persiapan HS tersebut dan Alhamdulillah masih bisa meski perndaftaran harusnya sudah ditutup hari sebelumnya. Maka semalam pun kami masuk kelas webinar di 
            Yah itu adalah webinar pertamaku. Meski sudah sering mendengar webinar-webinar yang diselenggarakan pihak lain tapi baru kali ini sesuai dengan apa yang kubutuhkan sehingga mengikutinya. Katrok banget deh pengalaman pertama ikut webinar hehehe. Untuk masalah setting sudah dipandu dengan baik oleh Bu Lala, tapi masalah koneksi internet cuaca sangat mempengaruhi, belum lagi harus rebutan lappy dengan Fachry. Untungnya Rumah Inspirasi sudah menyiasatinya dengan membagikan rekamannya. Sudah tidak sabar mengikuti lanjutan webinarnya tiap hari Kamis selama bulan Februari hingga Maret ini.
            Webinar ini mempertemukan lebih dari 50 peserta dari berbagai kota di Indonesia bahkan mancanegara. Semangat berHS menular dari satu peserta ke peserta lain, apalagi setelah mendengarkan paparan dari Pak Aar. Ternyata konsep HS ini benar-benar mengena di hati dan pikiranku. Aku pun akhirnya tahu bahwa untuk Fachry saat ini mungkin tidak butuh Paud, hanya bermain, bermain, bermain, mengobrol,mengobrol, mengobrol apapun yang dilihat atau dialami, mengklikkan hati kami dulu, membuat nyaman satu dengan yang lain, agar nantinya saat kami benar-benar berHS untuk usia sekolah dia sudah merasa nyaman dengan kami orang tuanya sekaligus gurunya juga Kepala sekolahnya.
            Saat ini aku pun masih terus mempersiapkan diri, mengumpulkan ide-ide permainan yang bisa ditawarka padanya, mengumpulkan buku-buku untuk dibacakan padanya, mengatur jadwalku sendiri, bahkan mungkin meluangkan banyak waktu untuk lepas dari gadget-gadget yang selama ini selalu setia mendampingiku. Tidak kalah penting juga mengajak suamiku untuk lebih memahami HS, memastikan bahwa ini akan menjadi keputusan bersama bukan sekedar ambisiku saja. Bismillah..semoga Allah meridhoi niat tulusku menjadi pendidik utama bagi Fachry, membantu Pemerintah juga karena tugas mendidik anak aku ambil alih dari sekolah formal, dan yang terpenting adalah semoga Fachry bahagia sehingga mampu mengeluarkan potensi yang ada dalam dirinya, bukan sekedar mengisinya dengan ilmu-ilmu yang ada.

Chef Juna ku

  Yap..ini adalah Chef Juna kecil ku...hehehe...bukan karena Mak nya ngefans dengan Chef Juna juga sih, tapi memang anaknya suka sekali ikut-ikutan masak, mengilustrasikan sedang masak saat mandi, bermain dan sebagainya. Entah bermula darimana, mungkin karena dirumah hanya ada kami berdua saat Papanya kerja sehingga apapun yang saya lakukan dia selalu mengikuti termasuk dalam hal masak-memasak. Beberapa waktu yang lalu pun sering kami bertiga menonton Master Chef Indonesia (sebuah kompetisi memasak yang disiarkan stasiun televisi swasta) dan sekarang juga masih sering menonton Master Chef Australia.
          Tapi dia anak lelaki ? Iyah aku sadar, tapi aku pun pernah mengenal mata kuliah tentang gender dan setahuku beberapa pekerjaan yang dianggap feminin belum tentu expert dilakukan oleh perempuan.Terbukti banyak chef-chef terkenal adalah seorang berjenis kelamin laki-laki. So, aku tidak menganggap itu suatu yang tabu saat anak laki-laki hobi dengan kegiatan masak-memasak. Toh dia juga masih sangat suka dengan bola, mobil-mobilan, kelahi-kelahian (sama mama dan papanya tentu), robot-robotan dan permainan ala anak laki-laki lainnya.
        Dulu sempat juga sih merasa kesal karena saat kita buru-buru masak eh malah diribetin, sayuran yang sudah dipotong-potong malah di berantakin, bahan-bahan yang memang dipisah malah dijadikan satu, pasti bikin geregetan dan sempat ngomel-ngomel juga. Tapi akhirnya lama-lama koq ya capek ya harus ngomel-ngomel melulu. Lalu disadari juga kalau di usianya yang baru 33 bulan memang lagi masa-masanya serba ingin tahu. Kami pun kemudian tidak pernah melarang dia melakukan apapun bahkan memegang pisau sekalipun asal dipastikan kalau pisaunya tidak terlalu tajam dan sebelumnya sudah diberi instruksi bagaimana cara menggunakannya dengan aman sekaligus juga diawasi. Beberapa waktu yang lalu juga sempat diberi hadiah kecil dari papanya berupa gunting beneran karena dia suka sekali gunting-menggunting sementara gunting mainannya yang dari plastik satu set berisi macam-macam jenis mata gunting itu sudah rusak.
       Masakan pertama Fachry (nama anak kami) adalah orak arik telur. Aku ingat betul menggendong dia supaya lebih dekat dengan wajan sehingga dia bisa menceplok dan mengorak arik telurnya sendiri. Hehe..dia senang sekali sekaligus bangga sampai memakan habis hasil masakannya.  Lalu saya pun iseng menjahit topi chef dan celemeknya. Dia tentu saja sangat suka. Setiap kali ke dapur pasti sudah siap dengan seragamnya.
    Foto-foto tersebut diambil saat dia membantu masak sarapannya beberapa hari yang lalu. Terbangun dari tidurnya dan dia mau sarapan dengan nasi goreng. Langsung saja saya ajak masak. Kami pun seru-seruan di dapur. Hidangan pun matang, siap disajikan. Papa yang masih tidur segera dibangunkan untuk menyantap bersama-sama nasi goreng ala Fachry. Hidangan ludes dimakan bertiga. Tak lupa kami beri pujian juga untuk Fachry. Berterimakasih karena dia mau memasakkan hidangan itu dan menghabiskan porsi makannya.
      Kami tidak sedang membentuknya menjadi chef. Kami hanya memfasilitasi apa-apa yang dia suka. Kedepannya kami berharap dia bisa menentukan sendiri ingin mempelajari apa sebagai pegangan hidupnya kelak. Kami akan terus mendukung apapun pilihan hidupnya. Sebagai orang tua kami mencoba berpikiran terbuka bahwa pendidikan bukan melulu tentang nilai raport di sekolah. Bahkan kalau dia kelak memilih untuk tidak bersekolah di sekolah formal pun kami siap menemaninya bersekolah dirumah.  Untuk saat ini karena dia belum genap tiga tahun kami pun masih enjoy bermain-main dirumah. Sembari orang tua nya terus belajar apa-apa saja yang dibutuhkan anak seusianya. Kadang kami bergabung dengan teman-teman pelaku homeschooling untuk mengadakan field trip ke suatu tempat. Menyenangkan bisa bertumbuh bersama anak.


Panaskan margarin secukupnya
Masukkan bumbu, telur dan nasi, aduk rata

Tradaaaaa...Nasi Goreng ala Chef Fahcry dah jadi.. Selamat menikmati