Tampilkan postingan dengan label Razi Thalib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Razi Thalib. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

Media Digital dan Improvisasi Pendidikan di Indonesia

      Pernahkah terbayang dalam benak, jika suatu saat penggunaan media digital dalam proses belajar-mengajar, berkembang lebih jauh daripada sekedar sebagai alat bantu mengajar? Media digital memiliki kelenturan nyaris tak terbatas. Penggunaannya bisa dirancang sedemikian rupa sesuai dengan tujuan serta kreativitas pemakainya. Untuk dunia pendidikan, media seperti ini adalah aset yang sangat berharga. Terutama karena pendidikan ditujukan untuk menghasilkan SDM berkualitas.
     Menurut Razi Thalib, CEO dari Bridges & Balloons Digital Agency, pendidikan adalah salah satu kunci untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang memiliki standar tinggi dalam suatu pencapaian. “Masyarakat seperti itu yang akan membentuk kultur baru yang lebih sophisticated. Sebuah kultur yang menghendaki kualitas terbaik dalam segala hal; baik itu dalam hal bisnis, pemerintahan, maupun penyediaan layanan masyarakat,” ujarnya.
        Pria kelahiran tahun 1980 ini mengatakan lebih lanjut, bahwa media digital dapat dikembangkan menjadi sarana untuk mempermudah manajemen sekolah. Misalnya, sekolah dapat merancang sistem digital yang memungkinkan siswa dan guru mengisi buku absen secara online; yang digabung dengan sistem pengecekan, agar orangtua bisa tahu apakah anaknya bolos atau tidak. Atau misalnya, sekolah menyediakan sistem akses yang membuat siswa dan orangtua bisa mendapatkan catatan rapor dan aktifivas mereka setiap saat tanpa harus datang ke sekolah dan menjalani prosedur rumit.
      “Itu akan menghemat banyak waktu serta praktis dalam hal manajemennya. Juga memudahkan pihak sekolah maupun orangtua untuk segera mengambil langkah jika menemukan ada kecenderungan prestasi siswa menurun, atau ada masalah lain yang mengganggu interaksi mereka di sekolah,” ungkap Razi, yang menjadikan utak-atik media digital sebagai salah satu hal yang sangat digemarinya.
      Sekolah juga dapat mengembangkan media digital sebagai sarana menumbuhkan sikap kritis serta memperluas akses informasi dan ilmu pengetahuan bagi siswanya. “Sekarang ini, hampir setiap siswa boleh dibilang dapat menggunakan internet. Namun apakah itu sudah dibarengi dengan tumbuhnya sikap kritis atau pengetahuan tentang bagaimana mengolah informasi? Saya yakin belum sepenuhnya ke arah situ,” ujar Razi lagi.
      Para birokrat, guru, dan orangtua perlu mulai memberi ruang yang cukup bagi siswa. Sebab selama ini, ada kecenderungan para pengambil kebijakan dan pelaksana masih berusaha mempertahankan status quo; dengan menghambat akses informasi atau mengangkat orang-orang yang kualifikasinya dipertanyakan. Juga masih lazim terjadi, mereka tidak memperkenankan adanya kritik yang muncul dari siswa dan menutup pintu dialog. Padahal justru kedua hal itu sangat penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
      input tentang itu dari pihak sekolah dan orangtua. Bukalah kesempatan seluasnya bagi siswa untuk bertanya, mencoba, dan mengembangkan kemampuan nalarnya. Jelaskan dengan logika dan standar moral secara umum; serta hindari reaksi yang dogmatis, seperti melarang tanpa penjelasan tuntas. Gunakan media digital untuk mempermudah proses belajar-mengajar, dan membantu siswa mendapatkan informasi yang relevan serta melakukan riset untuk tugas sekolah mereka,” ujar Razi.
“Mau tidak mau, dengan berkembangnya dunia digital serta kemudahan akses internet, siswa akan mendapatkan apapun yang mereka mau; termasuk jenis informasi yang destruktif. Jadi, mereka perlu mendapat

Razi Thalib dan Dunia Digitalnya

     Suasana di kedai Starbucks pagi itu sudah cukup ramai, meski saya datang terlalu pagi, setengah delapan pagi. Saya sedang menunggu seseorang sambil asyik dengan berbagai aktivitas menulis. Sekira jam sembilan, mata saya tertohok pada satu lelaki yang berjalan ke arah pintu masuk Starbucks. Saya sudah yakin pasti dialah yang saya tunggu. Razi Thalib, nama sosok itu, membalas senyum yang saya lempar untuknya, dan melangkah mendekati tempat saya duduk.
     Sejenak kemudian, lelaki muda itu mulai berbagi cerita, tentang dirinya yang baru tiga tahun tinggal di Indonesia, setelah sebelumnya sukses berkarir di luar negeri. Ia banyak membagi pengalaman dan kecintaannya dalam bidang Digital Engagement. Razi Thalib adalah seorang konsultan dan pengusaha, dengan pengalaman tujuh tahun di industri media digital di Australia, khususnya untuk bidang Manajemen Produk, Strategi, dan Pemasaran. Razi memutuskan untuk kembali ke Indonesia, karena merasa negara tempatnya dilahirkan memiliki peluang besar untuk berkembang.
      “Bidang Media Digital memiliki prospek sangat bagus di sini, dan saya Bridges and Balloons, sebuah agensi media digital di Jakarta, menyediakan sarana pendukung penuh, terutama bagi para pebisnis pemula. Dengan ditopang oleh sumber daya yang handal, agensi media digital ini membantu para pemilik bisnis untuk bisa mengembangkan bisnisnya secara positif melalui penggunaan teknologi digital.
ingin berbagi lebih banyak tentang pentingnya pemahaman media digital untuk membangun sebuah bisnis dalam jangka panjang,” ujarnya. Pendiri dan pemilik
     Bagi Razi sendiri, pilihannya untuk menjadi entrepreneur diawali oleh keinginannya untuk intens dan fokus pada dunia digital. Setelah sukses membangun sistem media digital bagi Zalora Indonesia dan meningkatkan pertumbuhannya hingga 40% dalam waktu setahun, Razi mulai menoleh pada peluang untuk mengembangkan proyek-proyek yang menarik perhatiannya. “Saya ingin mengerjakan proyek-proyek yang saya senangi, dan mengembangkan sistem digitalnya agar bisa berkembang terus dalam jangka panjang,” ujarnya.
     Sejumlah proyek yang sukses dia tangani antara lain adalah proyek pembuatan media digital bagi “Gerakan Indonesia Mengajar”. GIM adalah program untuk mengisi kebutuhan dalam dunia pendidikan, khususnya bagi anak-anak yang tinggal di pelosok yang tak terjangkau fasilitas sekolah dan guru yang memadai. Dengan dukungan sarana digital yang diciptakan oleh Razi, program ini semakin sukses dalam mengembangkan misinya untuk menyediakan materi pendidikan dan tenaga pengajar berkualitas tinggi bagi anak Indonesia.
     Salah satu kiat Razi dalam mengembangkan sebuah bisnis melalui dukungan perangkat sistem digital, adalah dengan menggunakan konten yang rinci, namun sekaligus mudah dicerna dan menyenangkan. Konten yang disukai pelanggan, menurut Razi, adalah yang mampu menyajikan hal serius menjadi ringan dan menarik tanpa kehilangan esensinya. “Kalau kontennya fun, para pelanggan dengan senang hati akan share, twit, klik “Like”, join, komen, dan sebagainya. Termasuk tentu saja membeli produk dengan wajah penuh senyuman. Oh ya, saya juga sekarang sedang mengembangkan www.setipe.com, bagi Anda yang sedang mencari jodoh, bisa mengakses situs ini,” tutur Razi Thalib di akhir percakapan.

Selasa, 21 Mei 2013

Optimalisasi Media Digital di Indonesia

sumber
     Global Village, yah ungkapan itu tidak asing saya dengar saat masih kuliah di Komunikasi Universitas Airlangga. Global Village diungkapkan oleh Marshall McLuhan, seorang pakar komunikasi, yang menjelaskan bagaimana dunia terhubung dalam sebuah desa melalui teknologi elektrik dan pergerakan instan informasi, yang kemudian istilah ini digunakan untuk menjelaskan internet. Demikian lah kondisi kita saat ini dimana semua orang dapat mengakses informasi tanpa batas yang tidak terbatasi jarak dan waktu. Segala informasi dari seluruh belahan dunia dapat kita akses dalam sekejap.
         Menurut SocialBakers, Indonesia saat ini telah menempati peringkat ke 4 di dunia untuk jumlah pengakses media sosial seperti Facebook dan Twitter. Bahkan Forbes telah menobatkan Jakarta dan Bandung sebagai kota pengguna Twitter terbesar nomor satu dan enam di dunia. Sehingga wajar saja bila Indonesia disebut sebagai negara dengan pengguna media digital yang cukup signifikan. Hal ini sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia itu sendiri yang sosial dan komunal. (http://www.indscriptcreative.com/2013/05/04/mengapa-indonesia-harus-peduli-media-digital/)
      Namun ternyata dengan angka pengguna sarana digital sebesar itu, Indonesia masih belum mampu memanfaatkan secara optimal media digital yang ada untuk perubahan Indonesia yang lebih baik di segala bidang. Lembaga-lembaga penyedia layanan masyarakat, pendidikan, industri, dan bisnis, hampir bisa dibilang semuanya belum melek media digital. Kebanyakan orang pun memanfaatkannya tidak lebih hanya untuk keperluan sosialisasi. “Salah satu penyebab utamanya adalah cara berpikir masyarakat yang belum banyak beranjak dari segi fungsi. Mereka lebih sering berpikir untuk sekadar menggunakan, meniru, atau mengikuti tren, tanpa mengeksplorasi penggunaan media digital lebih jauh,” ujar Razi Thalib, CEO Bridges and Balloons Digital Agency ini.
     Menurut Razi, yang memanfaatkan media digital sebagai sarana pengenalan dirinya melalui Personal Branding Agency, Indscript Creative ini, media digital seharusnya sudah difungsikan lebih jauh, misalnya untuk menyebarkan konten yang menjalin loyalitas, menghemat waktu, dan memberikan solusi untuk keperluan sehari-hari.
        Penggunaan media digital oleh para pelaku bisnis saat ini kebanyakan hanya berhenti pada target sekadar untuk meraup jumlah pengunjung sebanyak mungkin. Jarang ada pemikiran lebih jauh, misalnya menggunakan desain dan konsep interaksi untuk mengubah pengunjung menjadi pembeli setia. Menurut Razi Thalib, kini sudah saatnya para pengguna media digital di Indonesia mengoptimalkan teknologi ini dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak lagi sekadar sebagai pemakai, namun juga menggunakannya sebagai media untuk mengedukasi masyarakat, merubah cara berpikir, memberikan solusi, serta mendorong mereka ke arah perubahan yang lebih baik.



Sabtu, 18 Mei 2013

Mengapa Indonesia Harus Peduli Media Digital?

     Indonesia termasuk negara dengan pengguna media digital yang cukup signifikan. Sebut saja dari segi jumlah pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter. Menurut SocialBakers, situs yang mengkhususkan diri untuk soal statistik media sosial, Indonesia menempati peringkat ke-4 di dunia, dengan prosentase pengguna aktif mencapai hampir 20 persen dari total populasi. Sedangkan untuk jumlah pengguna Twitter, Forbes (The World’s Most Active Twitter City? You Won’t Guess It, 30/12/2012) sudah menobatkan Jakarta dan Bandung sebagai kota dengan pengguna Twitter terbesar nomor satu dan enam di dunia.
     Semua itu dimungkinkan berkat kemudahan akses internet dan teknologi digital lainnya, serta karakter masyarakat Indonesia yang cenderung sosial dan komunal. Dan dengan angka pengguna sarana digital sebesar itu, seharusnya perkembangan media digital di negara ini melesat cepat. Namun kenyataannya, media digital belum banyak dimanfaatkan untuk keperluan di luar ajang sosialisasi. Lembaga-lembaga penyedia layanan masyarakat, pendidikan, industri, dan bisnis, hampir bisa dibilang semuanya belum melek media digital.
      “Salah satu penyebab utamanya adalah cara berpikir masyarakat yang belum banyak beranjak dari segi fungsi. Mereka lebih sering berpikir untuk sekadar menggunakan, meniru, atau mengikuti tren, tanpa mengeksplorasi penggunaan media digital lebih jauh,” ujar Razi Thalib, CEO Bridges and Balloons Digital Agency ini.
    Menurut Razi, media digital seharusnya sudah difungsikan lebih jauh, misalnya untuk menyebarkan konten yang menjalin loyalitas, menghemat waktu, dan memberikan solusi untuk keperluan sehari-hari. “Sayang sekali jika kita hanya berhenti sekedar sebagai konsumen, tanpa memanfaatkan akses dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi digital untuk berkarya. Padahal potensi yang dimiliki negara ini sangat besar,” urai Razi lagi.
Penggunaan media digital oleh para pelaku bisnis saat ini kebanyakan hanya berhenti pada target sekadar untuk meraup jumlah pengunjung sebanyak mungkin. Jarang ada pemikiran lebih jauh, misalnya menggunakan desain dan konsep interaksi untuk mengubah pengunjung menjadi pembeli setia.
“Misalnya Anda punya produk berupa cokelat. Yang layak Anda lakukan selain menjualnya, adalah mengedukasi konsumen tentang produk itu. Bagaimana mengenali cokelat berkualitas tinggi, dari penampilan, aroma, dan rasanya. Lalu informasikan tentang konsep Fair-Trade, di mana para petani bisa menjual hasil kebun cokelat mereka dengan harga layak dan tidak dipermainkan oleh pasar. Ciptakan sebuah kesadaran, bahwa ada sisi lain dari bisnis Anda yang menyentuh aspek kemanusiaan atau lingkungan. Juga gambarkan mengapa sangat penting bagi konsumen untuk mendukung perusahaan yang memiliki idealisme, dan tidak semata-mata berbisnis,” ujar Razi.
    Menurut Razi Thalib, kini sudah saatnya para pengguna media digital di Indonesia mengoptimalkan teknologi ini dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak lagi sekadar sebagai pemakai, namun juga menggunakannya sebagai media untuk mengedukasi masyarakat, merubah cara berpikir, memberikan solusi, serta mendorong mereka ke arah perubahan yang lebih baik.

Digitalisasi Dalam Dunia Pendidikan

  
sumber
  Rasanya belum ada 10 tahun saya mengenal kuliah jarak jauh yang diadakan saat dosen saya sedang tidak dapat masuk kelas dikarenakan sedang berada di kota maupun negara lain. Sehingga kelas digelar dengan bantuan internet agar tetap bisa berkomunikasi meski jarak jauh. Saat itu rasanya amazing sekali, karena sejak TK sampai SMA yang saya ketahui bahwa kelas harus diselenggarakan tatap muka secara nyata antara siswa dan guru.
     Ternyata kini digitalisasi di segala bidang sedang berlangsung dengan sangat cepat, bahkan termasuk dalam dunia pendidikan. Baru-baru ini saya juga telah mengikuti webinar dari Rumah Inspirasi untuk pengenalan praktek Homeschooling yang sedang saya terapkan dalam mendidik anak saya, Fachry (3 tahun). Webinar ini diselenggarakan dengan akses internet pula, masuk dalam sebuah situs yang mengakomodir penyelenggaraan kelas-kelas jarak jauh secara interaktif (dapat mendengarkan suara mentor, menulis di chat dan melihat video/ tutorialnya. Pesertanyapun tidak terbatas di Indonesia saja namun para orangtua Homeschooler dari berbagai negara. Maka saya pun kembali amazing dengan kecanggihan internet masa kini.
      Media digital memiliki kelenturan nyaris tak terbatas. Penggunaannya bisa dirancang sedemikian rupa sesuai dengan tujuan serta kreativitas pemakainya. Untuk dunia pendidikan, media seperti ini adalah aset yang sangat berharga. Terutama karena pendidikan ditujukan untuk menghasilkan SDM berkualitas. Menurut Razi Thalib, CEO dari Bridges & Balloons Digital Agency, yang merupakan salah atu klien Personal Branding Agency, Indscript Creative ini, pendidikan adalah salah satu kunci untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang memiliki standar tinggi dalam suatu pencapaian. “Masyarakat seperti itu yang akan membentuk kultur baru yang lebih sophisticated. Sebuah kultur yang menghendaki kualitas terbaik dalam segala hal; baik itu dalam hal bisnis, pemerintahan, maupun penyediaan layanan masyarakat,” ujarnya.
      Saya pun menggunakan media digital sebagai alat bantu dalam mendidik anak saya. Melalui beberapa situs edukasi luar negeri seperti IXL dan Reading Eggs, Fachry bermain sambil belajar. Selain itu sumber-sumber inspirasi untuk aktifitas kegiatan homeschooling kami juga dapatkan dari internet. Begitu pula berkat teknologi digital yang membentuk banyak jejaring sosial kami sesama praktisi homeschooler dari seluruh Indonesia dapat saling berinteraksi, berbagi pengalaman satu sama lain, saling menguatkan dan mensupport, bahkan dapat kopi darat dalam suatu rangkaian acara yang sering di gelar.
     

Sabtu, 27 April 2013

Digitalisasi, Membuat Dunia Serasa dalam Genggaman

      Tak dapat dipungkiri bahwa segala kemudahan yang kita rasakan saat ini adalah berkat digitalisasi di segala aspek kehidupan. Menurut Wikipedia, digitalisasi (bahasa Inggris: digitizing) merupakan sebuah terminologi untuk menjelaskan proses alih media dari bentuk tercetak, audio, maupun video menjadi bentuk digital. Tujuannya tidak lain adalah untuk mendapatkan efisiensi dan optimalisasi dalam banyak hal. Digitalisasi sendiri telah terjadi di hampir seluruh dunia, baik di negara maju hingga berkembang, di kota maupun di desa. Digitalisasi juga sudah dinikmati dari berbagai kalangan usia maupun profesi.
      Menurut Razi Thalib, pendiri agensi digital bernama Bridges & Balloons Digital Agency (BBDA), yang merupakan klien dari Personal Branding Agency, Indscript Creative, mengatakan bahwa nyaris tidak ada satu pun aspek kehidupan yang tidak tersentuh oleh sarana digital. “Mulai dari urusan kantor, rekreasi, kehidupan sosial, keluarga, pendidikan, bisnis, keuangan… apapun. Semuanya tak lepas dari penggunaan teknologi digital,” ujarnya. Dengan teknologi digital, semua tahapan rumit dibuat menjadi mudah. Kita bisa menghemat waktu dan menggunakannya untuk kegiatan produktif lainnya.”
       Hal tersebut juga didukung oleh tersedianya sarana prasarana yang semakin hari semakin mudah dijangkau dari segi harga maupun ketersediaannya. Komputer bukan lagi barang yang terlalu mewah. Demikian pula cellphone, internet, televisi, sekarang bisa dibeli dengan mudah. Berbagai macam   gadget terkinipun bermunculan lengkap dengan aplikasi penunjang paling canggih, mulai dari smartphone, notebook, tablet dan lain-lain. Dari era GPRS , EDGE, 3G, HSDPA untuk layanan internet yang disediakan beberapa provider ternama.
       Hanya bermodalkan sebuah smartphone kita sudah mendapatkan beberapa layanan seperti email, chatting, facebook, twitter, blogging, dan sebagainya. Setiap orang dapat membuat akun jejaring sosial maupun berbagai macam situs untuk memulai bisnisnya kapan saja. Kemudahan tersebut juga berimbas pada semakin terbukanya kesempatan untuk menggunakan media digital secara kreatif. Kita dapat menggunakannya untuk meningkatkan volume penjualan, merespon permintaan konsumen dengan lebih baik, dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.
         Kedepan tentunya akan semakin canggih lagi teknologi digital ini, maka manusia pun harus selalu update agar tidak tertinggal oleh jaman. Semakin masyarakat paham bagaimana memanfaatkan teknologi digital dengan cara yang tepat, maka hal tersebut dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas hidupnya, karena kini dunia serasa berada didalam genggaman saja.
dunia dalam genggaman


Jumat, 05 April 2013

Berkenalan dengan Razi Thalib

     Razi Thalib adalah seorang konsultan dan pengusaha, dengan pengalaman tujuh tahun di industri media digital di Australia, khususnya untuk bidang Manajemen Produk, Strategi, dan Pemasaran. Ia berpengalaman memimpin pengembangan produk - produk digital dari pematangan ide sampai peluncuran dan pemasaran. Razi mendapatkan gelar sarjana Teknologi Informasi dari Charles Sturt University, Australia pada tahun 2003.
     Razi memutuskan untuk kembali ke Indonesia, karena merasa negara tempatnya dilahirkan memiliki peluang besar untuk berkembang. Sepulangnya ke Jakarta ia mendirikan maskapai konsultasi bernama Bridges and Ballons, sebuah agensi media digital di Jakarta, yang menyediakan sarana pendukung penuh, terutama bagi para pebisnis pemula. Dengan ditopang oleh sumber daya yang handal, agensi media digital ini membantu para pemilik bisnis untuk bisa mengembangkan bisnisnya secara positif melalui penggunaan teknologi digital. Bridges and Balloons digunakannya untuk berkolaborasi dengan talenta terbaik industri digital lokal dan internasional. Ia meyakini pentingnya pendidikan dalam mengangkat ekspektasi pengguna untuk meningkatkan kompetisi dan mendorong layanan produk lokal yang berstandar global.
     Bagi Razi sendiri, pilihannya untuk menjadi entrepreneur diawali oleh keinginannya untuk intens dan fokus pada dunia digital. Setelah sukses membangun sistem media digital bagi Zalora Indonesia dan meningkatkan pertumbuhannya hingga 40% dalam waktu setahun. Saat ini, trafik di web Zalora mencapai rata-rata 150.000 hits dan 1.000 order per hari. Sebagai Vice President Digital Marketing Zalora Indonesia, Razi Thalib, mengaku optimis dengan bisnis Zalora Indonesia, mengingat pasar yang ada luar biasa besar, di mana 23% dari total penduduk Indonesia, atau sekitar 60 juta orang, mengakses Internet, dan 44 juta orang Indonesia merupakan pengguna Facebook.
       Razi pun mulai menoleh pada peluang untuk mengembangkan proyek-proyek yang menarik perhatiannya. “Saya ingin mengerjakan proyek-proyek yang saya senangi, dan mengembangkan sistem digitalnya agar bisa berkembang terus dalam jangka panjang,” ujarnya. Sejumlah proyek yang sukses dia tangani antara lain adalah proyek pembuatan media digital bagi “Gerakan Indonesia Mengajar”. Program pendidikan untuk siswa di daerah terpencil ini diadaptasi dari program Teach for America, dan sukses dalam pengembangan misinya berkat dukungan dari formulasi digital yang diciptakan oleh Razi. Razi bergabung dengan Gerakan Indonesia Mengajar pada bulan Oktober 2010 dan saat ini memimpin konseptualisasi, pengembangan dan implementasi sistem registrasi, website dan software operasi GIM.
      Salah satu kiat Razi dalam mengembangkan sebuah bisnis melalui dukungan perangkat sistem digital, adalah dengan menggunakan konten yang rinci, namun sekaligus mudah dicerna dan menyenangkan. Konten yang disukai pelanggan, menurut Razi, adalah yang mampu menyajikan hal serius menjadi ringan dan menarik tanpa kehilangan esensinya. “Kalau kontennya fun, para pelanggan dengan senang hati akan share, twit, klik “Like”, join, komen, dan sebagainya. Termasuk tentu saja membeli produk dengan wajah penuh senyuman,” tutur Razi Thalib.
      Razi Thalib kini menjadi salah satu klien dari Personal Branding Agency, Indscript Creative. Semoga Razi Thalib semakin sukses dengan dunia digitalnya.